Hedonic Treadmill


Si Mamat baru lulus kuliah dan udah dapet pekerjaan. Pas lagi muda, biasanya cashflownya adalah cashflow si miskin. Ngekost, kemana mana naik motor, uang selalu habis untuk kebutuhan tiap bulan.

Merasa sudah mampu membuahi dan menafkahi, si mamat melamar mimin, seorang pegawai negeri dengan gaji lumayan. Apalagi kalo gaji mereka bedua digabung…jadinya gede.

Setelah menikah, mereka hidup istimewa di kontrakan dan meninggalkan kost kosan. Hidupberkecukupan karena gaji besar.

Tiba tiba, karena pengaruh pergaulan atau keinginan, mulailah rasan rasan untuk membeli rumah sendiri. Apalagi mertua sanggup bantu bayarin uang mukanya. Pihak bank dan orang sekitar juga mengatakan bahwa rumah adalah investasi yang bagus.

Jebakan awal sudah dibuat, karena rumah adalah beban, bukan aset. Mengeluarkan uang untuk membeli rumah bukan investasi tetapi biaya. Mulailah mereka hidup dengan beban cicilan. Tidak masalah, gaji berdua masih cukup.

Kemudian si mimin hamil, dunia terasa lebih cerah lagi. Setelah lahir si bayi, pengeluaran untuk susu meningkat. Si mamat mulai ambil lembur untuk mengatasi hal itu. Kemudian lahir bayi ke dua.

Melihat kebutuhan semakin meningkat Mimin memutuskan ambil S2 supaya bisa naik pangkat. Setelah jabatan naik, tunjanganpun meningkat, malu donk kalau gapake mobil.

Mulai mencicil mobil…jreng jreng jebakan kedua.
Sering bergaul dengan pejabat, diundang kerumahnya, mimin merasa level sepertinya harusnya punya rumah yang layak, apalagi anak bertambah rumah yang sebelumnya nayaman nyaman aja mulai terasa kurang besar, dibelilah rumah lebih besar.

Rumah besar beban listrik nambah, perabotan ganti, sewa pembantu , suster dll juga di tambah..kumplit plit.

Kebutuhan terus menerus bertambah. Uang seperti lewat begitu saja. Persis seperti mengisi ember bocor.
Cashflownya kadang ke kelas menengah, tapi lebih sering ke cashflow orang miskin.

Mamat dan mimin seperti LARI DIATAS TREADMILL, yang disebut “Hedonic Treadmill”. Konsep yang diperkenalkan oleh dua Philip Brickmann dan Donald Campbell.

Konsep Hedonic Treadmill adalah Hedonic Adaptation. Bagaimana kita ternyata cenderung kembali pada standar kebahagiaan hidup yang sebelumnya.

Tahukah anda, orang orang inilah pasar paling empuk bagi “Brand” karena brand itu tugasnya membuat keinginan.

Sudah punya Agya, pengennya Avanza, avanza kok pasaran, kayanya lebih keren kalo bawa inova. Hp Android kurang elegan, pasnya iphone yang punya camera kayak paramex.

Mamat tambahin terus bebannya. dan mamat lupa MEMBANGUN ASET UNTUK MASA DEPANNYA.

Mamat lupa kalo mamat bukan robot dengan baterai yang tidak ada matinya, bisa bekerja selamanya. Ini realita cuy

Pernah kenal dengan mamat ? saya salah satu mamatnya

Bagaimanakah seharusnya, besok saya share lanjutannya…