Masalah Keuangan Keluarga Indonesia, Hari ini kita akan berdiskusi tentang masalah-masalah keuangan yang dialami Keluarga Indonesia. Sebelum kita membahas apa saja masalah-masalahnya, terlebih dahulu kita lihat akar permasalahannya. Salah satu akar permasalahannya adalah rendahnya literasi keuangan masyarakat Indonesia.

Dari Survei Nasional Literasi Keuangan (SNLIK) yang dilakukan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) pada tahun 2019 lalu menunjukkan indeks literasi keuangan Masyarakat Indonesia baru mencapai 38,03%. Artinya dari 100 orang, baru sekitar 38 orang yang memiliki ilmu, pengetahuan, dan keterampilan yang memadai mengenai produk dan layanan keuangan. Termasuk perencanaan dan pengelolaan keuangan di dalamnya.
Kurang pahamnya masyarakat terhadap produk dan jasa keuangan inilah yang menimbulkan banyak masalah- masalah keuangan yg akut dan susah diobati.

Setidaknya ada 8 masalah keuangan keluarga Indonesia dari sudut pandang Central Property.

1. Lebih besar pengeluaran dibandingkan pendapatan

Ini menjadi masalah banyak orang. Pendapatan yang ada tidak bisa menutup pengeluaran bulanan. Jika tidak segera disolusikan, maka akan menjadi bom waktu di kemudian hari. Solusinya, perbesar pendapatan atau perketat pengeluaran. Memperbesar pendapatan dengan kerja sampingan, nge gojek, jadi penulis lepas, jualan jilbab, jualan makanan, jualan online, dll.

Memperketat pengeluaran dengan cara kita kurangi pengeluaran-pengeluaran yang tidak perlu, misalnya rokok, jajan, biaya transfer atm, makan di luar, dll. Menurut Survei yang dilakukan OECD, Sebanyak 57,9 persen responden Indonesia turut mengaku mengalami kesulitan finansial yaitu kondisi di mana pengeluaran jauh lebih besar dibandingkan pendapatan dalam 12 bulan terakhir.

2. Tidak memiliki dana darurat

Survei Organisasi Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (OECD) per 25 Juni 2020 menunjukkan Indonesia termasuk negara yang tidak siap menghadapi krisis ekonomi. Survei tersebut menunjukkan mayoritas responden di Indonesia hanya memiliki ketahanan dana darurat untuk bertahan satu pekan.

Padahal, yang dimaksud dana darurat adalah dana yang bisa digunakan untuk menutupi pengeluaran, tanpa meminjam uang dalam kondisi kehilangan sumber pendapatan.

Dalam survei tersebut, ketahanan Indonesia tergolong rendah. Sebanyak 46 persen responden mengaku dana darurat hanya dapat menyambung hidup selama sepekan. Kemudian 24 persen responden mengaku bisa bertahan dalam satu hingga enam bulan. Hanya 9 persen responden mengaku mereka bisa bertahan hingga diatas enam bulan, dan sebanyak 22 persen mengaku tidak tahu.

Dana darurat itu apa sih? Dana darurat adalah sejumlah dana yang dicadangkan dan dialokasikan terpisah, untuk memenuhi kebutuhan yang sifatnya darurat.

Apa saja yang bisa kita anggap sebagai dana darurat?
Motor atau mobil tiba-tiba rusak, ganti ban, mogok atau terserempet
Mengganti peralatan rumah tangga yang tiba-tiba rusak, furniture, alat elektronik, HP, pompa air
Sakit Mendadak dan butuh biaya yang tidak bisa ditunda
Terjadi kecelakaan di jalan
Mendadak harus keluar kota
PHK, kehilangan pekerjaan, atau dirumahkan dengan gaji dipotong
Dan biaya-biaya lain yang tidak direncanakan

3. Terjerat hutang yang berbunga tinggi

Seperti rentenir, pinjam online dan kartu kredit. Ini bunganya sangat mencekik, bisa 5-30% perbulan. Rata-rata orang berhutang Karena kurangnya pemasukan dan tidak adanya tabungan, jadi mau ga mau memenuhi kebutuhan dengan cara berhutang. Salah-salah bukannya menjadi solusi, malah menjadi masalah yang semakin dalam di kemudian hari. Kemarin ada teman cerita, om nya punya hutang di pinjol, hutangnya 35 juta, bunganya hampir 1 juta perhari. Itu jika tidak segera dibayar akan menggulung terus. Belum lagi masalah kebahagiaan dan kenyamanan yang terganggu, karena dikejar-kejar debt collector. Saran saya untuk alasan apapun, jangan pernah meminjam uang di aplikasi-aplikasi pinjaman online yang seperti itu.

4. Tidak mempunyai tabungan investasi

Pendapatan yang diperoleh habis untuk pengeluaran, untuk jajan, wisata kuliner, atau cicilan-cicilan sehingga tidak menyisihkan uang untuk ditabung. Tidak mempunyai managemen keuangan yang baik, sehingga tidak menyisihkan pendapatannya untuk menabung, apalagi mempunyai investasi. Padahal investasi adalah kendaraan yang bisa kita pakai untuk menunju ke arah kebebasan financial.

5. Pandangan yg keliru tentang aset dan kekayaan.

Banyak orang yang berpikir kaya itu harus punya mobil bagus atau rumah bagus walaupun nyicil. Kesalahan cara pandang ini yang membuat orang akhirnya hidup dalam cicilan. Atau membeli barang branded karena ingin pamer atau dianggap orang kaya. Padahal barang-barang itu kalau dijual lagi harganya turun. Mewah tidak identik dengan kaya.

Orang yang tidak bisa membedakan mana aset dan mana liabities, akan terjebak dalam permainan hidup yaitu “Hedonic Treamill” seperti anda berlari diatas treamill, sekencang apapun anda berlari, anda tidak kemana-mana.

6. Terjebak dalam trend sosmed: YOLO, FOMO, OOTD.

Lebih memilih eksperiens dibandingkan aset. Sehingga sulit memiliki aset. Apakah kita tidak boleh ber eksperiens? Tentu saja boleh tetapi setelah aset yang kita miliki bisa membiayai ekperiens kita.

YOLO (You Only Live Once), FOMO (Fear Of Missing Out) dan OOTD (Outfit Of The Day) yang membikin keluarga Indonesia menjadi boros dan tidak bisa menyisihkan sebagian pendapatannya untuk hari depannya.

7. Tidak paham produk keuangan.

Banyak sekali orang di lua sana mungkin termasuk anda juga buta terhadap terhadap produk keuangan yang ditawarkan lembaga keuangan maupun lembaga investasi, sehingga sering terjadi salah beli produk asuransi atau investasi, menurut IARFC Indonesia bahwa 9 dari 10 orang Indonesia salah beli Asuransi. Selain itu masalah terjebak investasi bodong, ponzi dan money game.

Satuan Tugas (Satgas) Waspada Investasi menyebutkan bahwa kerugian masyarakat akibat kejahatan ekonomi berkedok investasi atau investasi bodong mencapai Rp 92 triliun dalam kurun waktu 10 tahun atau sejak 2009 hingga 2019. Ketua Satgas Waspada Investasi Tongam L. Tobing mengungkapkan, masifnya kemunculan investasi bodong salah satunya disebabkan karena kemajuan teknologi. Hal ini membuat orang dengan mudah melakukan penawaran investasi lewat internet, yang kemudian disalahgunakan oleh pihak yang tidak bertanggung jawab.

Selain itu, literasi keuangan dan investasi masyarakat sendiri masih tergolong rendah, sehingga mudah terbujuk tawaran investasi dengan iming-iming imbal hasil tinggi,

8. Sandwich Generation

Kondisi dimana kita yang produktif, harus menghidupi 2 generasi. Generasi orang tua kita dan anak kita. Ini permasalahan banyak keluarga di Indonesia sekarang, karena dulu orang tua kita tidak menyiapkan pensiunnya dengan baik.

Harapan kita sandwich generation ini bisa kita putus di generasi kita dengan kita mempersiapkan dana pensiun. Sehingga nanti walau kita sudah pensiun dan tidak produktif, kita masih punya aset atau tabungan untuk menghidupi kita 10 sampai 20 tahun setelah pensiun. Sehingga kita tidak bergantung sama anak, atau bahkan kita harus terpaksa kerja walau diusia tua.

Demikian rangkuman masalah keuangan keluarga di Indonesia yang bisa kami sajikan, harapan nya agar keluarga Indonesia berbenah diri untuk tidak mengalami maslah diatas .

Semua dimulai dari investasi kita terhadap otak kita, diinstall dengan pemahaman keuangan yang baik. Caranya banyak, bisa dengan membaca-baca buku keuangan, menonton youtube dan cari mentor yang bisa menjelaskan tentang literasi keuangan.

Terima Kasih atas Perhatiannya.